What is eight grade syndrome?

Eight grade syndrome merupakan suatu sindrom yang di derita oleh,....

Budidaya Bawang Merah Organik

Tanaman bawang merah diduga berasal dari Asia, terutama Palestina, India, Utara Pakistan dan daerah pengunungan Iran dan juga berkembang ke Mesir dan Turki. Dari berbagai penelusuran dalam literatur, menunjukan bahwa zaman I dan II Dynasti (3200 - 2700 sebelum masehi) bangsa mesir sering melukiskan bawang merah pada patung dan tugu-tugu mereka...

Sagu

Sagu (Metroxylon spp.) termasuk tumbuhan monokotil. Tanaman sagu termasuk dalam ordo Spadiciflora, famili Palmae, genus Metroxylon, dan spesies Metroxylon spp. .

Perkembangan Bioteknologi Pertanian

Bioteknologi berasal dari dua kata, yaitu ‘bio’ yang berarti makhuk hidup dan ‘teknologi yang berarti cara untuk memproduksi barang atau jasa. Dari paduan dua kata tersebut European Federation of Biotechnology (1989) mendefinisikan bioteknologi sebagai perpaduan dari ilmu pengetahuan alam dan ilmu rekayasa yang bertujuan meningkatkan aplikasi organisme hidup, sel, bagian dari organisme hidup, dan/atau analog molekuler untuk menghasilkan produk dan jasa ...

Jenis-jenis jagung

Jagung merupakan tanaman yang dapat di manfaatkan baik sebagai makanan pokok, pakan ternak maupun sayur. Jagung sendiri memiliki berbagai macam jenis dan varietas.

Showing posts with label AGRICULTURE. Show all posts
Showing posts with label AGRICULTURE. Show all posts

Sunday, May 12, 2013

Jenis-jenis Jagung

K.R. Jenis-jenis jagung yang ada di Indonesia adalah:
1.        Jagung gigi kuda (Dent corn)
Banyak terdapat di Amerika Serikat dan Meksiko Utara, kemudian di Eropa. sebagian besar  dijadikan makanan ternak. Di Indonesia  jenis jagung ini jarang ditanam karena tidak tahan tarhadap hama bubuk dan cocok untuk dibuat tepung jagung 
Ciri khas biji jagung kuda adalah adanya lekukan dibagian tengah atau atau bagian atas biji, batangnya tingi dan panjang  tumbuhnya tegap dan umurnya lama .Setiap batang tumbuhnya 1-2 tongkol. Biji-bijian tanaman jagung kuda berukuran besar yang terbagi dalam beberapa baris, dan berwarna kuning, putih atau kadang-kadang berwarna lain ,beratnya per 1000 biji antara 300-500 gr. Cara penyimpanannya ditaruh ditempat yang teduh dan strategis dimasukan kegudang, disortir dengan memisahkan rambut, jagung, tongkol dan disortir ukuran  yang seragam , kemudian dikemas dalam wadah  dan disimpan didalam wadah yang dingin. 
Bagian pati keras pada tipe biji dent berada di bagian sisi biji, sedangkan pati lunaknya di tengah sampai ke ujung biji. Pada waktu biji mengering, pati lunak kehilangan air lebih cepat dan lebih mengkerut dari pada pati keras, sehingga terjadi lekukan (dent) pada bagian atas biji. Tipe biji dent ini bentuknya besar, pipih dan berlekuk. Jagung hibrida tipe dent adalah tipe jagung yang populer di Amerika dan Eropa. Di Indonesia, terutama di Jawa, kira-kira 25% dari jagung yang ditanam bertipe biji semi dent (setengah gigi kuda).

2. Jagung mutiara (flint corn)
Biji jagung tipe mutiara berbentuk bulat, licin, mengkilap dan keras karena bagian pati yang keras terdapat di bagian atas dari biji. Pada waktu masak, bagian atas dari biji mengkerut bersama-sama, sehingga menyebabkan permukaan biji bagian atas licin dan bulat. Pada umumnya varietas lokal di Indonesia tergolong ke dalam tipe biji mutiara. Sekitar 75% dari areal pertanaman jagung di Pulau Jawa bertipe biji mutiara. Tipe biji ini disukai oleh petani karena tahan hama gudang.
Jagung ini banyak terdapat di dunia terutama di Amerika Serikat Argentina .   sebagia digunakan untuk keperluan pakanternak . Kalau di Indonsia dimanfaatkan untuk konsumsi manusia dan ternak. Tanaman jagung mutiara dapat beradaptasi baik didaerah tropis  dan subtropis. 
            Umur tanaman jagung ini agak lama demikian juga jumalah dan tumbuhan janggel (tongkol bermacam-macam. beratnya per 1000 biji antara 100-700 gr. dan bentuknya agak bulat dan ukurannya lebih kecil dari pada biji jagung model gigi kuda , warnanya bervariasi , putih,kuning.dan juga agak merah. Permukaan biji cerah dan bersinar  dan agak keras ( horny starch) kandungan zat tepung relatif sedikit dan terletak  dibagian dalam (tengah).
Biji jagung mutiara tidak berkerut saat mengering sehingga lebih tahan terhadap serangan hama gudang dan gangguan gudang dan gangguan dari luar, seperti keadaan hujan tidak teratur, sedangkan  biji jagung gigi kuda berkerut (perbedaannnya). 
Cara penyimpanannya ditaruh ditempat yang teduh dan strategis dimasukan kegudang, disortir dengan memisahkan rambut, jagung, tongkol dan disortir ukuran  yang seragam , kemudian dikemas dalam wadah  dan disimpan didalam wadah yang suhu yang stabil tidak terlalu dingin.

3.     Jagung Manis ( Sweet Corn) 
Jagung manis ( Z .m. saccharata )  diusahakan secara besar besaran di AmerikaSerikat dan Meksiko.  Produksi jagung manis digunakan bahan pembuatan sirup, karena mengandung zat gula yang sangat tinggi. sedangkan di Indonesia jagung manis baru mulai ditanam kurang lebih sekitar tahun 2000  dan dalam beberapa tahun terakhir ini jagung manis menjad mata dagangan ekspor ke pasar dunia. 
Ciri khas jagung manis adalah biji-biji yang masih muda bercahaya dan berwarna jernih, biji yang telah masak dn kering berkeriput ( mengerut. untuk membedakan dapat dilihat dari rambut tongkol berwarna putih .jika rambutnya berwarna merah berarti jaung biasa. Apabila ada yang berminat menanam jagung manis ini terlebih kita melihat umur tanam yang berkisar antara 60-70 hari, namun didataran tinggi mencapai 80 hari. 
Bentuk biji jagung manis pada waktu masak keriput dan transparan. Biji jagung manis yang belum masak mengandung kadar gula lebih tinggi dari pada pati. Sifat ini ditentukan oleh satu gen sugary (su) yang resesif. Jagung manis umumnya ditanam untuk dipanen muda pada saat masak susu (milking stage).
Jagung manis apabila ditanam satu tempat dengan jagung biasa maka akan berubah rasa manis, karena jagung ini tidak bisa mempertahankan sifat terhadap penyerbukan silang ,sebaiknya menanam jagung manis dan jagung biasa agak berjauhan  (minimal 100 meter) atau pada batas petakan ditanam tanaman pelindung sebagai pembatas. 
Cara penyimpanannya ditaruh ditempat yang teduh dan strategis dimasukan kegudang, disortir dengan memisahkan rambut, jagung, tongkol dan disortir ukuran  yang seragam , kemudian dikemas dalam wadah  dan disimpan didalam wadah yang teduh dan dingin. 

4.     Jagung Brondong( Pop Corn) 
Jagung Berondong (Z.M everta) diusahakan secara besar-besaran di Amerika terutama Iowa, Nebrazka dan Meksiko.
Ciri-cinya  bijinya kecil-kecil seperti terdapat di Mall –Mall atau pertokoan hampir seluruh bentuk   (endosperm) merupakan bagian yang keras, serta jika dipanaskan  dapat mengembang 10-30 kali dri volume semula. Biji jagung berondong ini berwarnaa putih atau kekuning –kuningan dengan bentuk yang agak meruncing dan tongkolnya berukuran kecil . bila ditimbang bijinya yang 1000 biji maka beratnya mencapai antara 80 sampai 130 gr.jenis jagung ini ada dua tipe satu diberi nama rice pop corn bedanya bijijnya agak pipih dan meruncing, sedangkan yang satu lagi diberi nama pear pop corn bentuk bijinya bulat dan kompak.Jagung ini cocok untuk snack.
Cara penyimpanannya ditaruh ditempat yang teduh dan strategis dimasukan kegudang, disortir dengan memisahkan rambut, jagung, tongkol dan disortir ukuran  yang seragam , kemudian dikemas dalam wadah  dan disimpan didalam wadah yang dingin. 

5.     Jagung Pod (Pod Corn) 
Jenis Jagung Pod (Z.m.Tunicata) merupakan bentuk primitif yang dijumpai pertama kali  di Amerika Selatan, terutama di Uruguay dan Paraguay.Di Indonesia tidak ada yang mengusahakan karena jagung ini kurang menguntungkan ciri khas nya biji dan tongkolnya banyak diselubungi oleh kelobot bijiny seolah-olah tidak kelihatan. Cara penyimpanannya ditaruh ditempat yang teduh dan strategis dimasukan kegudang, disortir dengan memisahkan rambut, jagung, tongkol dan disortir ukuran  yang seragam, kemudian dikemas dalam wadah  dan disimpan didalam wadah yang dingin

6.     Jagung Berlilin ( Waxy Corn) 
Jagung berlilin (Z.m Ceratina)biasa disebut jagung pulen karena kadar amilopektinnya tinggi. dan cirinya lengket apabila dimasak bijinya kecil berwarna jernih dan mengkilap seperti lilin dan dan zat patinya seperti tepung tapioka dan memiliki ekonomis tinggi sebab dapat mengganti tepung 9tapioka dan bahan pengganti sagu serta dapat dijadikan bahn pakan ternak.Asalmula jagung ini adalh dari Asia . Endosperma pada tipe jagung waxy seluruhnya terdiri dari amylopectine, sedangkan jagung biasa mengandung ± 70% amylopectine dan 30% amylose. Jagung waxy digunakan sebagai bahan perekat, selain sebagai bahan makanan.
Cara penyimpanannya ditaruh ditempat yang teduh dan strategis dimasukan kegudang, disortir dengan memisahkan rambut, jagung, tongkol dan disortir ukuran yang seragam, kemudian dikemas dalam wadah  dan disimpan didalam wadah yang dingin.

7.     Jagung Tepung ( Flour Corn) 

Jenis Jagung Tepung Flour Corn atau (Z.m amilacea) dikembang kan di Amerika Selatan  bagian Peru, Bolivia dan Colombia serta Colombia serta di Afrika. Zat pati yang terdapat dalam endosperma jagung tepung semuanya pati lunak, kecuali di bagian sisi biji yang tipis adalah pati keras.
Ciri-ciri jagung tepung adalah hampir seluruh bijinya berisi pati yang berupa tepung dan lunak, serta apabila terkena panas akan mudah pecah  panjang  tongkolnya berkisar 25- 30 cm dan barisan bijinya berkisar 8- 12 baris. jagung jenis ini cocok untuk membuat tepung maezena.
Cara penyimpanannya ditaruh ditempat yang teduh dan strategis dimasukan kegudang namun sebelumnya dijemur  dibawah sinar matahari selama 7 hari atau lebih hingga kadar air mencapai 18 % .Jagung disortir dengan memisahkan rabut,jagung, tongkol dan disortir ukuran  yang seragam , kemudian dikemas dalam wadah  dan disimpan didalam wadah yang dingin. Apabila jagung kering yang mau   dipipil dengan menggunakan alat pemipil  maka dikeringkan kembali sampai kadar airnya 12 % kemudian disimpan digudang  yang sejuk dan kering serta berpentilasi baik. 

Bioteknologi, Perkembangan Sejarah Serta Manfaat dan Kerugian



K.R. Bioteknologi berasal dari dua kata, yaitu ‘bio’ yang berarti makhuk hidup dan ‘teknologi  yang berarti cara untuk memproduksi barang atau jasa. Dari paduan dua kata tersebut European Federation of Biotechnology (1989) mendefinisikan bioteknologi sebagai perpaduan dari ilmu pengetahuan alam dan ilmu rekayasa yang bertujuan meningkatkan aplikasi organisme hidup, sel, bagian dari organisme hidup, dan/atau analog molekuler untuk menghasilkan produk dan jasa (Goenadi & Isroi, 2003). Seperti halnya teknologi-teknologi yang lain, aplikasi bioteknologi untuk pertanian selain menawarkan berbagai keuntungan juga memiliki potensi risiko kerugian. Keuntungan potensial bioteknologi pertanian antara lain: potensi hasil panen yang lebih tinggi, mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida, toleran terhadap cekaman lingkungan, pemanfaatan lahan marjinal, identifikasi dan eliminasi penyakit di dalam makanan ternak, kualitas makanan dan gizi yang lebih baik, dan perbaikan defisiensi mikronutrien (Jones, 2003). Satu pendekatan baru yang sedang mendapatkan banyak perhatian adalah Bio-farming , seperti antibiotika dalam buah pisang.
            Bioteknologi dapat diaplikasikan salah satunya di bidang pertanian. Perkembangan bioteknologi di bidang pertanian sangatlah pesat dengan pemanfaatannya secara meluas hampir di seluruh negara di dunia. Berdasarkan laporan Global Status of Commercialized Biotech/GM Crops: 2009, di tahun 2009, 14 juta petani menanam 134 juta hektar (330 juta akre) tanaman biotek di 25 negara, meningkat dari 13,3 juta petani dan 125 juta hektar (7 persen) di 2008. 13 dari 14 juta petani, atau 90 persennya adalah petani kecil dan bersumberdaya rendah dari negara-negara berkembang. Brasil melampaui Argentina sebagai penanam tanaman biotek terbesar kedua secara global.  Pertumbuhan yang mengesankan dari 5,6 juta hektar menjadi 21,4 juta hektar, meningkat 35% dibanding tahun 2008, ini merupakan pertumbuhan tertinggi untuk semua negara di tahun 2009.
            Ada delapan negara tertinggi di dunia yang sampai tahun 2009 masing-masing menanam  lebih dari 1 juta hektar tanaman biotek diantaranya adalah Amerika Serikat (64,0 juta hektar), Brasil (21,4 juta ha), Argentina (21,3 juta ha), India (8,4 juta ha), Kanada (8,2 juta ha), China (3,7 juta ha), Paraguay (2,2 juta ha), dan Afrika Selatan (2,1 juta ha).  Negara-negara yang tersisa termasuk: Uruguay, Bolivia, Filipina, Australia, Burkina Faso, Spanyol, Meksiko, Chile, Kolombia, Honduras, Republik Ceko, Portugal, Rumania, Polandia, Kosta Rika, Mesir dan Slovakia.
            Banyak perusahaan di dunia yang kini sedang mengembangkan produk bioteknologi. Penerapannya yang semakin meluas membuka peluang bagi berbagai perusahaan lainnya untuk turut berperan dalam pengembangan produk-produk seperti ini. Perusahaan-perusahaan raksasa dunia seperti Monsanto, DuPont, Syngenta, Bayer dan lainnya menguasai hampir seluruh aspek pengembangan produk bioteknologi pertanian, dikarenakan modalnya yang besar yang didukung oleh sumberdaya yang memadai.
            Sebuah invensi bioteknologi pada dasarnya merupakan ide atau solusi bagi sebuah masalah teknis. Oleh karena itu adalah sangat penting untuk memperoleh perlindungan hukum sebelum mengkomersialkannya. Dalam beberapa kasus, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan sebelum sebuah invensi dapat diwujudkan dalam bentuk produk yang dapat dipasarkan atau proses yang dapat diterapkan dalam produksi komersial. Bahkan setelah produksi dari invensi baru dilaksanakan, upaya lebih lanjut masih dibutuhkan untuk memasarkannya, yang juga memerlukan dukungan sumberdaya manusia, investasi, waktu, dan kerja kreatif. Riset pengembangan merupakan tahapan yang sangat penting sebelum sebuah hasil penelitian bioteknologi dapat menjadi sebuah produk atau proses. Walaupun banyak tahapan yang dapat ditempuh, pengalaman penulis menunjukkan bahwa riset pengembangan menentukan keyakinan pihak investor dalam mengkomersialisasikan teknologi yang dihasilkan.
            Salah satu kunci keberhasilan komersialisasi produk bioteknologi adalah adanya kebutuhan pasar dan mutu produk yang dihasilkan cukup memadai. Produk-produk berbasis bioteknologi memperoleh apresiasi pasar karena masyarakat lebih sadar terhadap pentingnya produk hayati. Oleh karena itu, produk-produk pupuk hayati, pelapuk hayati, dan tanaman hasil kultur jaringan relatif mudah memperoleh tanggapan positif dari pasar. Faktor kunci lainnya adalah jenis produk yang dihasilkan harus mampu menawarkan peningkatan efisiensi pada tingkat harga yang layak. Memasarkan produk pupuk hayati, yang mampu menghemat penggunaan pupuk kimia pada saat harga pupuk terus meningkat dan subsidi oleh pemerintah dihapus akan sangat efektif. Di samping aspek produk tersebut di atas, pengenalan terhadap segmen pasar adalah sangat penting artinya agar invensi yang diciptakan mampu secara potensial memiliki pasar utama (captive market). Untuk itu diperlukan strategi mengamankan pasar produk melalui keterkaitan yang erat antara produsen dan konsumen. Salah satunya adalah bahwa produsen adalah sekaligus bertindak sebagai konsumen utama.


Adapun Keuntungan dan Kerugian Bioteknologi Konvensional dan Modern adalah:


A.    Bioteknologi Konvensional 

1.  Keuntungan Bioteknologi Konvensional
a. Meningkatkan nilai gizi dari produk-produk makanan dan minuman, seperti air susu menjadi yoghurt, mentega, keju.
b. Teknologinya relatif sederhana,
c. Menciptakan sumber makanan baru, misalnya dari air kelapa dapat dibuat Nata de coco
d. Secara tidak langsung dapat meningkatkan perekonomian rakyat karena bioteknologi konvensional tidak banyak membutuhkan biaya karena biaya yang digunakan relatif murah
e. Pengaruh jangka panjang umumnya sudah diketahui karena sistemnya sudah mapan 

2. Kerugian Bioteknologi Konvensional
     a.      Tidak dapat mengatasi masalah ketidaksesuaian (inkompatibilitas) genetic
     b.      Perbaikan sifat genetik tidak terarah
     c.      Hasil tidak dapat diperkirakan sebelumnya
     d.      Memerlukan waktu yang relatif lama untuk menghasilkan galur baru
     e.      Tidak dapat mengatasi kendala alam dalam sistem budidaya tanaman, misalnya hama

B.     Bioteknologi Modern 

        1.      Manfaat Bioteknologi Modern

a.   Di bidang pertanian dan peternakan yaitu mampu menciptakan bibit-bibit unggul yang akan memberikan produk bermutu tinggi secara kualitas dan kuantitas ,meningkatnya sifat resistensi tanaman terhadap hama dan penyakit tanaman, misalnya tanaman transgenik kebal hama, Mengatasi terbatasnya lahan pertanian , Mengatasi produksi bibit yang sama dalam jangka waktu singkat , Mengendalikan serangga perusak tanaman budidaya

b.  Dibidang Lingkungan dan pelestarian yaitu mengatasi masalah pelestarian species langka dan hampir punah. Dengan teknologi transplantasi nukleus, hewan / tumbuhan langka bisa dilestarikan, membantu manusia mengatasi masalah-masalah pencemaran lingkungan, Seperti : bacteri pemakan plastik dan parafin, bacteri penghasil bahan plastik biodegradable,

c. Dibidang kesehatan, mampu menciptakan produk obat untuk penyakit.Misalnya : penyakit kelainan genetis dg terapi gen, hormon insulin, antibiotik, antibodi monoklonal, vaksin.

d.  Dibidang industri, mampu menciptakan pemberantas hama secara biologis (Bacillus thuringensis) dan tanaman tahan hama dalam tubuhnya disisipi gen bakteri (tanaman transgenik)

e. Dibidang pertambangan, mampu melakukan pengolahan biji besi (Thiobacillus ferrooxidans), membantu manusia mengatasi masalah sumber daya energi. Misalnya : bioethanol, biogas,membantu proses pemurnian logam dari bijihnya pada pertambangan logam ( biohidrometalurgi )

            2. Kerugian Bioteknologi Modern

1)      Di bidang Etika/ Moral
a.       Ada masyarakat yang menganggap bahwa menyisipkan gen suatu MH ke MH berten-tangan dengan nilai budaya dan melanggar hukum alam
b.      Penyisipan gen babi ke dalam buah semangka dapat membawa konsekuensi bagi penganut agama tertentu.
c.       Pemberian hak paten atas organisme transgenik bertentangan dengan banyak nilai-nilai budaya yang menghargai nilai intrinsik makhluk hidup karena pemberian hak paten pada organisme hasil rekayasa menyebabkan pemberian hak pribadi atas organisme yang bisa disalahgunakan.
d.      Kloning manusia saat ini masih dipertentangkan dan dianggap merusak nilai etika dan moral karena merusak embrio/janin manusia untuk alasan apapun dianggap tidak manusiawi
2)      Di bidang sosial ekonomi
a.     Menimbulkan kesenjangan antara negara/ perusahaan yang memanfaatkan biotekno-logi dengan yang belum memanfaatkan bioteknologi (negara dunia ke tiga).
b.     Hak paten hasil rekayasa, swastanisasi dan konsentrasi bioteknologi pada kelompok tertentu membuat petani tradisional tidak dapat mengadakan bibit sendiri dan para peneliti harus mendapatkan ijin terlebih dahulu sebelum melakukan penelitian menggunakan bibit-bibit hasil rekayasa tersebut.
c.     Merugikan petani kecil dan menimbulkan kesenjangan ekonomi karena produk bioteknologi yang pada umumnya dimiliki oleh pemilik modal dapat meningkatkan produksi hingga 50 %.
d.    Produk bioteknologi hasil modifikasi genetika suatu organisme dapat menyingkirkan plasma nutfah, yaitu suatu jenis makhluk hidup yang masih memiliki sifat asli.
3)      Dampak di bidang kesehatan
a.  Ada produk hasil rekayasa genetik yang disinyalir menimbulkan masalah serius, misalnya kematian akibat penggunaan insulin, sapi penghasil susu yang disuntik dengan Hormon BGH mengandung bahan kimia yang berbahaya, tomat Flavr Savr diketahui membawa gen resisten terhadap antibiotik.
b.  Penggunaan insulin hasil rekayasa telah menyebabkan 31 orang meninggal di Inggris.
c.  Tomat Flavr Savr hasil rekayasa diketahui mengandung gen yang resisten terhadap antibiotik.
d.  Susu sapi yang disuntik hormon BGH (bovine growth hormone) atau hormon pertumbuhan sapi, disinyalir mengandung bahan kimia baru yang punya potensi berbahaya bagi kesehatan manusia..
e.  Jagung yang direkayasa sebagai pakan unggas menjadikan unggas tersebut mengandung genetic modified organism (GMO) yang dikhawatirkan membahayakan manusia.
f.  Ada dugaan bahwa SARS yang menghebohkan dunia, diduga disebabkan oleh rekayasa genetika virus Corona.
4)      Dampak terhadap lingkungan
a. Pelepasan organisme transgenik ke alam dapat keseimbangan alam dan kelestarian organisme.
b. Pencemaran biologi, karena apabila makhluk hidup transgenik lepas ke alam bebas dan kawin dengan makhluk normal dapat menghasilkan keturunan yang mutan.
c.  Penyalahgunaan hak pribadi, karena dengan rekayasa genetika perubahan genotip tidak dirancang secara alami sesuai dengan kebutuhan, melainkan menurut kebutuhan pelaku bioteknologi itu sendiri. Hal ini dapat menimbulkan peluang bahaya bagi kelestarian lingkungan hidup.

Sejarah perkembangan bioteknologi sendiri dimulai:
·         1917                Karl Ereky memperkenalkan istilah bioteknologi
·          1943               Penisilin diproduksi dalam skala industri
·          1944               Avery, MacLeod, McCarty mendemonstrasikan bahwa DNA adalah bahan genetik
·          1955               Watson & Crick  menentukan struktur DNA
·          1961               Jurnal Biotechnology and Bioengineering ditetapkan
·          1961-1966      Seluruh sandi genetik terungkapkan
·          1970               Enzim restriksi endonuklease pertama kali diisolasi
·          1972               Khorana dan kawan-kawan berhasil mensintesa secara kimiawi seluruh   gen tRNA
·         1973                Boyer dan Cohen memaparkan teknologi DNA rekombinan
·          1975               Kohler dan Milstein menjabarkan produksi antibodi monoklonal
·          1976               Perkembangan teknik-teknik untuk menentukan urutan DNA
·          1978               Genetech menghasilkan insulin manusia dalam E.coli
·          1980               US Supreme Court: Mikroba hasil manipulasi dapat dipatenkan
·          1981               Untuk pertama kalinya automated DNA synthesizers dijual secara   komersial
·          1981               Untuk pertama kalinya kit diagnostik berdasar antibodi disetujui untuk dipakai di Amerika                Serikat
·         1982                Untuk pertama kalinya vaksin hewan hasil teknologi DNA rekombinan disetujui pemakaiannya di Eropa
·          1983               Plasmid Ti hasil rekayasa genetik dipakai untuk transformasi tanaman
·          1988               US Patent diberikan untuk mencit  hasil rekayasa genetik sehingga  rentan terhadap kanker (untuk penelitian tumor)
·          1988               Metode Polymerase Chain Reaction dipubliikasi
·          1990               USA: Telah disetujui percobaan Terapi gen sel somatik pada manusia
·          1997               Kloning hewan (domba Dolly) dari sel dewasa (sel kambing)
·          2000               Pro dan kontra tanaman transgenik di Indonesia. Kapas transgenik ditanam di Sulawesi Selatan
·          2001               Konstruksi monyet transgenik (ANDi) yang mengandung gen GFP dari sejenis ubur-ubur dan hingga masa kini.

Sagu,


K.R. Sagu (Metroxylon spp.) termasuk tumbuhan monokotil. Tanaman sagu termasuk dalam ordo Spadiciflora, famili Palmae, genus Metroxylon, dan spesies Metroxylon spp. Tanaman ini merupakan tanaman asli Indonesia dan banyak (lebih dari 50%) ditemui di Papua (Bintoro et al., 2010).
Indonesia memiliki areal pertanaman atau hutan sagu terluas serta diversitas genetik terbesar di dunia (Bintoro et al., 2010). Namun demikian perhatian terhadap tanaman sagu masih sangat kurang, hal ini ditandai dengan luas tanaman sagu yang belum diketahui secara pasti. Namun, menurut Manan (1984) dalam Bintoro et al. (2010) luasan lahan sagu di Indonesia adalah 4.1833 juta hektar. Menurut Haryanto dan Pangloli (1992) dalam Bintoro et al. (2010) berdasarkan laporan tentang luas lahan dan produktifitas sagu per pohon, potensi sagu di Indonesia diperkirakan sekitar 5 juta ton per tahun.
Sagu sebagai Bahan Pangan
            Pati sagu merupakan bahan pangan yang potensial, yang dapat menghasilkan karbohidrat dengan jumlah yang sangat banyak. Bintoro (2000) dalam Bintoro et al. (2010) menyatakan pati sagu dapat digunakan sebagai makanan pokok, bahan baku makanan ringan (empek-empek, bakso, onde-onde, dodol, dan cendol), dan bahan baku untuk beberapa industri makanan. Selain di Indonesia, Malaysia pun sudah memanfaatkan pati sagu sebagai bahan baku makanan seperti yang tercantum pada tabel 3.
Jenis Pemanfaatan
Jumlah Pemanfaatan (ribu ton)
Gula Cair
15.6
Monosodium Glutamat
15.0
Mie
13.2
Karamel
7.8
Sagu Mutiara
6.0
Kue (Cracker)
3.6

Sagu sebagai Pakan
            Selain dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan potensial sagu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak. Bintoro (2000) dalam Bintoro et al. (2010) dalam keterangannya juga menyebutkan kegunaan sagu selain sebagai sumber pangan pokok, juga sebagai bahan baku pakan ikan maupun ternak. Produk turunan sagu yang sangat berpotensi dikembangkan dan yang saat ini banyak digunakan sebagai pakan ternak adalah single cell protein. Selain itu, hama sagu (ulat sagu) juga sering diburu petani untuk dijadikan makanan maupun pakan ternak dan ikan.
Energi
            Sama halnya dengan sumber pati yang lain, sagu berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi. Negara-negara yang tidak memiliki minyak dan gas bumi telah banyak mengembangkan etanol. Etanol dapat digunakan sebagai pengganti minyak bumi dan gas alam. Bahan energi tersebut dapat diproduksi dari asam-asam organik turunan glukosa. Menurut Bintoro et al. (2010) saat ini bahan baku pembuat etanol berupa tapioka yang berasal dari ubi kayu yang kemungkin-an besar akan habis. Secara keseluruhan, seluruh bagian sagu dapat dimanfaatkan sebagai sumber glukosa, dan juga dapat diubah menjadi etanol. Namun yang saat ini digunakan sebagai bahan baku etanol adalah pati sagu. Secara teoritis satu ton pati sagu dapat menghasilkan 715.19 liter alkohol (Baker, 1980 dalam Haryanto dan Pangloli, 1992 dalam Bintoro, 2010).
Pemanenan sagu
Sagu dipanen dengan tahap sebagai berikut:

  1. Pohon sagu dirubuhkan dan dipotong hingga tersisa batang saja.
  2. Batang dibelah memanjang sehingga bagian dalam terbuka.
  3. Bagian teras batang dicacah dan diambil.
  4. Teras batang yang diambil ini lalu dihaluskan dan disaring.
  5. Hasil saringan dicuci dan patinya diambil.
  6. Pati diolah untuk dijadikan tepung atau dikemas dengan daun pisang (dinamakan "basong" di Kendari).
Pohon sagu dapat tumbuh hingga setinggi 20 m, bahkan 30 m. Dari satu pohon dapat dihasilkan 150 sampai 300 kg pati. Suatu survai di Kabupaten Kendari menunjukkan bahwa untuk mengolah dua pohon sagu diperlukan 4 orang yang bekerja selama 6 hari. Tanaman sagu dapat berperan sebagai pengaman lingkungan karena dapat mengabsorbsi emisi gas CO2 yang diemisikan dari lahan rawa dan gambut ke udara (Bintoro, 2008)


Budidaya Bawang Merah Organik


K.R. Tanaman bawang merah diduga berasal dari Asia, terutama Palestina, India, Utara Pakistan dan daerah pengunungan Iran dan juga berkembang ke Mesir dan Turki. Dari berbagai penelusuran dalam literatur, menunjukan bahwa zaman I dan II Dynasti (3200 - 2700 sebelum masehi) bangsa mesir sering melukiskan bawang merah pada patung dan tugu-tugu mereka. Di Israel, tanaman bawang merah dikenal pada tahun 1500 SM. Hingga sekarang hampir diseluruh negara di dunia ini mengenal bawang merah. Negara-negara yang menjadi produsennya antara lain; Jepang, USA, Rumania, Italia, Iran, Meksiko, Vietnam, China, dan Philipina. Daerah penyebaran bawang merah di Indonesia antara lain; Brebes, Tegal, Cirebon, Kuningan, Pekalongan,Wates (Yogyakarta), Solo, Sumenep (Madura), Soreang dan Madur (Bandung).
            Bawang merah termasuk sayuran umbi yang multiguna paling utama kegunaannya adalah sebagai bumbu penyedap masakkan, sebagai bawang goreng pasaranya telah menembus pasar ekspor ke Singapura, produsennya adlah kebupaten Kuningan (Jawa Barat).
Kegunaan lain bawang merah adalah sebagai obat tradisional, bawang merah dikenal sebagai obat karena mengandung efek antiseptik dari senyawa alliin atau allisin yang oleh enzim alliin liase diubah menjadi asam piruvat, ammonia dan allisin anti mikroba yang bersifat bakterisida.
            Dalam dunia industri makanan bawang merah sering diawetkan dalam kaleng (canning), sous, sop kalengan, tepung bawang dll. Bawang merah termasuk komoditas utama dalam prioritas pegembangan sayuran di Indonesia, karena setelah ratusan tahun dibudidayakan sekaligus merupakan sumber pendapatan bagi petani dan ekonomi negara ini.
Meskipun fluktuasi harga bawang sering turun naik, usahatani bawang merah ini sangatlah prospektif untuk diusahakan dan dapat dijadikan andalan, mengingat permintaan akan bawang merah terus meningkat, tidak hanya pasar didalam negeri tapi juga pasaran eksport.

BOTANI BAWANG MERAH

            Tanaman bawang merah dalam tata nama tumbuhan, termasuk dalam klasifikasi sebagai berikut:
Divisio :
Spermatophyta
Sub divisio :
Angiospermae
Kelas :
Monocotyledone
Ordo :
Lilialaes (Liliaflorae)
Famili :
Liliales
Genus :
Allium
Spesies :
Allium ascalonicum L.
            Berakar serabut dengan sistem perakaran dangkal dan bercabang terpencar, pada kedalaman antara 15 – 30 cm di dalam tanah.Memiliki batang sejati atau disebut "diskus" yang berbentuk seperti cakram, tipis dan pendek sebagai tempat melekatnya akar dan mata tunas (titik tumbuh), diatas diskus terdapat batang semu yang tersusun dari pelepah-pelepah daun dan batang semu yang berada di dalam tanah berubah bentuk dan fungsi menjadi umbi lapis.Daun Berbentuk silindris kecil memanjang antara 50 – 70 cm, berlubang dan bagian ujungnya runcing, bewarna hijau muda sampai tua, dan letak daun melekat pada tangkai yang ukurannya relatif pendek.Tangkai bunga keluar dari ujung tanaman (titik tumbuh) yang panjangnya antara 30 – 90 cm, dan di ujungnya terdapat 50 – 200 kuntum bunga yang tersusun melingkar (bulat) seolah berbentuk payung. Tiap kuntum bunga terdiri atas 5 – 6 helai daun bunga yang berwarna putih, 6 benang sari berwarna hijau atau kekuning-kuningan, 1 putik dan bakal buah berbentuk hampir segitiga.Bunga bawang merupakan bunga sempurna (hermaprodite) dan dapat menyerbuk sendiri atau silang.Buah berbentuk bulat dengan ujungnya tumpul membungkus biji berjumlah 2 –3 butir, bentuk biji agak pipih saat muda berwarna bening atau putih setalah tua berwarna hitam. Biji banwang merah dapat digunkan sebagai bahan perbanyakan tanaman secara generatif.

SYARAT TUMBUH

            Bawang merah dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi + 1.100 m (ideal 0 – 800 m) di atas permukaan laut, tetapi produksi terbaik dihasilkan dari dataran rendah yang didukung keadaan iklim meliputi:
§  Kelembaban 50-70 %,
§  Suhu udara antara 25 – 32 derajat C dan iklim kering.
§  Tempat terbuka dengan pencahayaan + 70%, karena bawang merah termasuk tanaman yang memerlukan sinar matahari cukup panjang (long day plant).
§  Tiupan angin sepoi-sepoi berpengaruh baik bagi tanaman terhadap laju fotosintesis dan pembentukan umbinya akan tinggi.
§  Drainase dan porositas tanah bagus, namun dapat menjaga kelembaban tanah.
            Bawang merah tumbuh baik pada tanah subur, gembur dan banyak mengandung bahan organik dengan dukungan syarat sebagai berikut:
·         Bawang merah dapat tumbuh pada tanah sawah atau tegalan, tekstur sedang sampai liat, Jenis tanah yang paling baik adalah lempung berpasir atau lempung berdebu. Jenis tanah Alluvial, Glei Humus atau Latosol
·         Derajat keasaman tanah (PH) tanah untuk bawang merah antara 5,5 – 6,5.
·         Tata air (drainase) dan tata udara (aerasi) dalam tanah berjalan baik, tidak boleh ada genangan.

TEHNIK BUDIDAYA

Pembibitan
            Bawang merah dapat diperbanyak dengan 2 cara, yaitu bahan tanaman berupa biji botani (true shallot seed, TSS) dan umbi bibit.Dengan menggunakan biji untuk satu hektar diperlukan paling sedikit + 3 kg, dengan potensi hasil mencapai 9 – 11,5 ton dipanen pada umur + 80 hari setelah tanam dengan waktu persemaian selama + 30 hari.Bibit yang berasal dari umbi, daya hasilnya relatif tidak berubah dengan bergantinya waktu.Peningkatan daya hasil hanya bisa dilakukan melalui perbaikan kultur teknis, dan suatu ketika produksi bawang merah akan mengalami penurunan.Untuk meningkatkan produktivitas bawang merah selain perbaikan kultur teknis, petani perlu dikenalkan varietas unggul “TUK-TUK” yang dapat ditanam melalui biji. Ciri-ciri bawang merah ini antara lain bentuk umbi bulat, ukuran seperti bawang merah lokal Philipina, warna umbi merah muda sampai kecoklatan.
Adapun cara pembibitannya sebagai berikut :
§  Benih atau biji sebaiknya disemai pada lahan terbuka agar tumbuh dengan baik, caranya:
§  Buat bedengan dengan lebar 1m, tinggi 40cm-50cm, dan panjang menyesuaikan lahan yang tersedia, jarak antar bedengan 40-50 cm.
§  Campur tanah bedengan dengan pupuk kandang 2 Kg/m2 dan kapur pertanian sebanyak 150-200g/m2,
§  Ratakan kembali bedengan tersebut,
§  Taburi bedengan dengan sekam padi setebal 9-10 cm.
§  Bakar sekam padi selanjutnya dibiarkan selama 1 hari.
§  Buat alur melintang dengan jarak antara alur 5-10cm dan kedalaman 1 cm.
§  Taburkan biji bawang merah pada alur tersebut sebanyak 150-200 biji/alur, kemudian tutup alur dengan tanah.
§  Lakukan penyiraman secara rutin dan hati-hati untuk menjaga kelembaban;
§  Bila musim hujan sebaiknya bedengan ditutup dengan sungkup plastik selama 3-4 minggu.

Penanaman
1. Buat bedengan yang sama baik ukuran maupun perlakuannya seperti bedengan pesemaian, kemudian diari sampai basah.
2. Buat lubang tanam dengan jarak dalam barisan 5cm-10cm dan jarak antar barisan 10cm;
3. Usahakan baris tanaman dibuat memotong bedengan untuk memudahkan penyiangan;
4. Tanam bibit yang telah berumur 6 minggu setelah semai dengan memasukkan bibit kedalam lubang tanam satu lubang satu bibit;
5. Tekan tanah disekitarnya dengan lembut supaya akarnya menyatu dengan tanah.
            Sedangkan dengan menggunakan umbi memerlukan prasyarat kualitas (mutu) yang baik, meliputi:
§  Umbi bibit harus sehat, ditandai dengan bentuk umbi yang kompak (tidak keropos), kulit umbi tidak luka (tidak terkelupas atau berkilau)
§  Ukuran umbi terdiri atas 2 kelas, yaitu umbi besar (kelas I) beratnya 5 – 7,5 gram/umbi dan umbi sedang (kelas II) beratnya 2,5 – 7,5 gram/umbi.
§  Tanaman dipanen pada umur antara 65 – 75 hari setelah tanam, dan dalam keadaan sehat.
§  Bakal Bibit Telah mengalami masa penyimpanan antara 60 – 90 hari.
§  Kebutuhan bibit umbi 1.000 – 1.200 kg perhektar atau + 200.000 umbi,
§  Sebelum ditanamkan umbi sebaiknya diperlakukan dengan memotong 1/3 bagian pada ujung umbi.
§  Perlakuan ini memiliki keuntungan, antara lain pertumbuhan merata, umbi cepat tumbuh, dan berpengaruh terhadap makin banyaknya anakan maupun jumlah daun, sehingga hasil umbinya meningkat.

Pengolahan Tanah
·         Pupuk kandang fermentasi disebarkan di lahan sebanyak 5ton/ha.
·         Dibuat bedengan dengan lebar 120 -180 cm. Diantara bedengan pertanaman dibuat saluran air (canal) dengan lebar 40-50 cm dan kedalaman 50 cm.
·         Biarkan selama 5 - 7 hari

FASE TANAM

Jarak Tanam
1.      Pada Musim Kemarau, 15 x 15 cm, varietas Ilocos, Tadayung atau Bangkok
2.      Pada Musim Hujan 20 x 15 cm varietas Tiron

Cara Tanam
            Pada saat tanam, seluruh bagian umbi bibit yang telah siap tanam dibenamkan ke dalam permukaan tanah. Untuk tiap lubang ditanam satu buah umbi bibit.

AWAL PERTUMBUHAN ( 0 - 10 HST )

Pengamatan Hama
·         Waspadai hama Ulat Bawang ( Spodoptera exigua atau S. litura), telur diletakkan pada pangkal dan ujung daun bawang merah secara berkelompok, maksimal 80 butir. Telur dilapisi benang-benang putih seperti kapas. Kelompok telur yang ditemukan pada rumpun tanaman hendaknya diambil dan dimusnahkan.
·         Biasanya pada bawang lebih sering terserang ulat grayak jenis Spodoptera exigua dengan ciri terdapat garis hitam di perut /kalung hitam di leher.
·         Ulat tanah . Ulat ini berwarna coklat-hitam. Pada bagian pucuk /titik tumbuhnya dan tangkai kelihatan rebah karena dipotong pangkalnya. Kumpulan ulat pada senja/malam hari. Jaga kebersihan dari sisa-sisa tanaman atau rerumputan yang jadi sarangnya. Penyakit yang harus diwaspadai pada awal pertumbuhan adalah penyakit layu Fusarium. Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan menguningnya daun bawang, selanjutnya tanaman layu dengan cepat (Jawa : ngoler). Tanaman yang terserang dicabut lalu dibuang atau dibakar di tempat yang jauh.

Penyiangan dan Pembumbunan
·         Penyiangan pertama dilakukan umur 7-10 HST dan dilakukan secara mekanik untuk membuang gulma atau tumbuhan liar yang kemungkinan dijadikan inang hama ulat bawang. Pada saat penyiangan dilakukan pengambilan telur ulat bawang
·         Dilakukan pendangiran, yaitu tanah di sekitar tanaman didangir dan dibumbun agar perakaran bawang merah selalu tertutup tanah. Selain itu bedengan yang rusak atau longsor perlu dirapikan kembali dengan cara memperkuat tepi-tepi selokan dengan lumpur dari dasar saluran (di Brebes disebut melem).

Pengairan
·         Pada awal pertumbuhan dilakukan penyiraman dua kali, yaitu pagi dan sore hari.
·         Penyiraman pagi hari usahakan sepagi mungkin di saat daun bawang masih kelihatan basah untuk mengurangi serangan penyakit.
·         Penyiraman sore hari dihentikan jika persentase tanaman tumbuh telah mencapai lebih 90 %
·         Air salinitas tinggi kurang baik bagi pertumbuhan bawang merah
·         Tinggi permukaan air pada saluran ( canal ) dipertahankan setinggi 20 cm dari permukaan bedengan pertanaman

FASE VEGETATIF ( 11- 35 HST )

Pengelolaan Tanaman
·         Kurang lebih pada umur 35 hst, beberapa varietas atau kultivar bawang merah yang mudah berbunga akan mulai keluar tangkai-tangkai bunga, tangkai-tangkai bunga ini sebaiknya dipotong agar zat-zat makanan dapat secara optimal terserap pada umbi.
·         Penyiangan kedua dilakukan pada umur 30-35 HST dilanjutkan pendagiran, pembumbunan dan perbaikan bedengan yang rusak.
·         Pengairan, penyiraman 1x per hari pada pagi hari, jika ada serangan Thrips dan ada hujan rintik-rintik penyiraman dilakukan siang hari.

FASE PEMBENTUKAN UMBI ( 36 - 50HST )
            Pada fase pengamatan HPT sama seperti fase Vegetatif, yang perlu diperhatikan adalah pengairannya. Butuh air yang banyak pada musim kemarau sehingga perlu dilakukan penyiraman sehari dua kali yaitu pagi dan sore hari.

FASE PEMATANGAN UMBI ( 51- 65 HST )
            Pada fase ini tidak begitu banyak air sehingga penyiraman hanya dilakukan sehari sekali yaitu pada sore hari.

PANEN DAN PACA PANEN

Panen
·         60-90 % daun telah rebah, dataran rendah pemanenan pada umur 55-70 hari, dataran tinggi umur 70 - 90 hari.
·         Panen dilakukan pada pagi hari yang cerah dan tanah tidak becek
·         Pemanenan dengan pencabutan batang dan daun-daunnya. Selanjutnya 5-10 rumpun diikat menjadi satu ikatan (Jawa : dipocong)

Pasca Panen
·         Penjemuran dengan alas anyaman bambu (Jawa : gedeg).
·         Penjemuran pertama selama 5-7 hari dengan bagian daun menghadap ke atas, tujuannya mengeringkan daun.
·         Penjemuran kedua selama 2-3 hari dengan umbi menghadap ke atas, tujuannya untuk mengeringkan bagian umbi dan sekaligus dilakukan pembersihan umbi dari sisa kotoran atau kulit terkelupas dan tanah yang terbawa dari lapangan.
·         Kadar air 89 85 % baru disimpan di gudang.
·         Penyimpanan, ikatan bawang merah digantungkan pada rak-rak bambu. Aerasi diatur dengan baik, suhu gudang 26-290C kelembaban 70-80%, sanitasi gudang.